Tilu Daun, Pemuda Purwosari yang Menjadi Garda Depan Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu
Komitmen pelestarian pohon langka semakin kuat berakar di tingkat desa. Kelompok pemuda Tilu Daun dari Desa Purwosari, Kuningan, membuktikan bahwa inisiatif lokal dapat menjadi ujung tombak konservasi keanekaragaman hayati, khususnya pohon-pohon langka dan terancam punah yang tumbuh di kawasan Gunung Tilu.
Program konservasi ini bermula dari pertemuan awal pada Januari 2024, dalam sebuah kegiatan konservasi yang diselenggarakan di Universitas Kuningan (UNIKU) dan difasilitasi oleh Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI). Sejak itu, kerja sama dan semangat pelestarian terus berkembang.
Langkah Awal: Monitoring dan Pemetaan
Tahun 2024 menjadi titik awal program dengan kegiatan monitoring dan pencatatan jenis serta titik sebaran pohon langka di Gunung Tilu. Dari hasil pencatatan tersebut, ditentukan pohon-pohon induk potensial untuk dikoleksi bijinya.
Persemaian Pohon Langka: 10 x 8 Meter Harapan Masa Depan
Sebagai tindak lanjut, kelompok Tilu Daun membangun persemaian pohon langka berukuran 10 x 8 meter yang berlokasi di dekat Saung Kehati, sebuah ruang edukasi lingkungan di desa tersebut. Hingga saat ini, sudah beberapa jenis pohon langka dan terancam punah berhasil disemai, sebagai bagian dari upaya konservasi berbasis masyarakat.
Kontribusi Nyata untuk Konservasi Nasional
Puncaknya, pada November 2024, persemaian Tilu Daun dipercaya menjadi salah satu penyedia bibit pohon langka dalam program tanam serentak pohon langka yang digagas oleh FPLI secara nasional. Ini menjadi bukti bahwa inisiatif dari desa bisa memberikan dampak nyata bagi konservasi di tingkat nasional.
“Tilu Daun adalah contoh pemuda desa yang bergerak bukan karena proyek, tetapi karena kesadaran dan cinta terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Kami bangga bisa mendampingi mereka,” ujar perwakilan FPLI.
FPLI berharap, model kolaborasi seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, dengan pemuda desa sebagai motor penggerak konservasi jangka panjang.
Mahasiswa Fakultas Kehutanan USU bersama FPLI Lakukan Survei Biodiversitas Pulau Mursala
Medan – Survei Biodiversitas pulau Mursala, berhasil mengungkap kekayaan hayati luar biasa yang tersembunyi di hutan pulau Mursala, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Penelitian ini berhasil dilaksanakan berkat kerjasama berbagai elemen, seperti Forum Pohon langka Indoenesia dengan Universitas Sumatera Utara dan WhIS. Tujuan utama kegiatan ini adalah mencatat keberadaan jenis-jenis flora dan fauna yang tinggal di pulau kecil yang terletak diantara pulau Sumatera dan pulau Nias itu.
Ekspedisi Pulau Mursala 2018-2024 merupakan salah satu program yang dilakukan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati di Pulau Mursala. Pulau ini terletak di perairan barat Sumatera dan dikenal memiliki berbagai spesies flora dan fauna yang sangat penting, termasuk pohon langka dan endemik yang perlu dilindungi. Ekspedisi ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Mursala dan sekitarnya.
Sejak dimulainya program ini pada tahun 2018, tim peneliti yang terdiri dari para ahli, mahasiswa, dan aktivis lingkungan telah melakukan perjalanan dan penelitian untuk memahami lebih jauh tentang ekosistem di pulau tersebut. Beberapa temuan penting telah berhasil ditemukan, termasuk spesies baru dan informasi penting terkait konservasi Pulau Mursala.
Diseminasi Perjalanan Konservasi Pohon Langka Pulau Mursala
dilaksanakan di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas SUmatera Utara di kota Medan
Pelatihan How a to be a botanist
Pontianak – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan flora yang sangat tinggi, mencapai kisaran 31.000 spesies. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah botanis, sebutan orang yang berkecimpung di bidang pendataan hingga kajian-kajian ekologi serta pemanfaatan tumbuhan di Indonesia. Hingga saat ini, peranan botanis masih didominasi oleh kalangan peneliti dari institusi resmi negara dan juga oleh pada akademisi di wilayah kampus.
Berkaca pada perkembangan botani di Indonesia, banyak pionir dalam ilmu botani Indonesia sebenarnya muncul dari kalangan non-botanis. Buku Herbarium Amboinense yang merupakan karya monumental keragaman tumbuhan Indonesia ditulis oleh seorang mantan tentara bernama George E. Rumphius. Buku tentang flora Java, waktu itu merujuk pada wilayah mayoritas Hindia Belanda, dikerjakan oleh seorang dokter. Begitu juga dengan Flora of Java, penulis utamanya adalah seorang guru sekolah dasar di Batavia kala itu. Ini menunjukkan bahwa potensi pengungkapan keragaman tumbuhan di Indonesia dapat dilakukan oleh siapa saja dengan latar belakang yang beragam.
Menjawab kebutuhan tersebut, Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) berkolaborasi dengan Yayasan Tumbuhan Asli Indonesia (YTAN) memfasilitasi generasi muda dari berbagai kalangan yang memiliki keinginan kuat mengasah keilmuan di bidang botani untuk mengikuti kegiatan “How to be a Botanist 2024” selama 1 minggu di Pontianak, Kalimantan Barat. Melalui kegiatan ini, para peserta akan diberikan materi bagaimana menjadi seorang Botanis yang benar dan bermanfaat di masa mendatang.
Pelatihan ini menjadi sangat special, karena dapat menghadirkan secara langsung narasumber yang sudah melalang buana di bidang Botani. Berikut adalah nama-nama narasumber di pelatihan ‘How to be a Botanist 2024”
- Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua FPLI)
- Dr. Cam Webb
- Agusti Randi (Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara & FPLI)
- Prima Hutabarat (BRIN)
- Mokhamad Nur Zaman (FPLI)
- Iyan Robiansyah (BRIN & FPLI)
- Wisnu Ardi (BRIN)
- Arief Hamidi (FPLI)
- Ir. Togar Fernando Manurung, MP (Kehutanan UNTAN)
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan para botanis muda menuju ke tingkat professional yang dapat berdayaguna dalam memberikan kontribusi terhadap pengungkapan temuan-temuan baru dari keanekaragaman tumbuhan, peningkatan konservasi tumbuhan dan restorasi, serta memperkaya perkembangan ilmu botani dan ekologi di Indonesia.
Tentang How to be a Botanist 2024
Target peserta kegiatan ini adalah para peminat botani di Indonesia dengan sasaran utama para generasi muda yang masih menempuh pendidikan di Universitas, atau praktisi botani pemula di bawah 25 tahun. Pembukaan sejak tanggal 5 November 2024 dan di tutup 20 November 2024. Untuk program pertama ini, di khususkan bagi calon peserta dari Indonesia Barat (Jawa, Sumatra, Kalimantan). Pendaftar mencapai 259 pendaftar, dan di tetapka sebanyak 13 peserta yang berhak mengikuti pelatihan di Pontianak.
Bentuk kegiatan berupa penyampaian pelatihan secara teori, praktek, dan simulasi dengan melakukan kunjungan ke hutan yang didampingi langsung dari para botanis senior sebagai instrukturnya. Tematik kegiatan adalah tentang Taksonomi, Ekologi, dan Konservasi Tumbuhan.
Pelaksanaan kegiatan pada tanggal 2–7 Desember 2024 yang secara umum dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat, dimana penyampaian materi dan praktek akan difokuskan dilakukan di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, dan Arboretum Sylva PC Universitas Tanjungpura. Sedangkan praktik lapangan dilakukan di Rumah Konservasi pelangi selama 2 hari efektif.
Di akhir kegiatan, sebagai tanda cinta kasih terhadap lestarinya jenis-jenis pohon langka, endemik, maupun terancam punah, seluruh peserta, panitia, dan narasumber melakukan penanaman pohon langka, sekaligus sebagai salah satu rangkaian program tanam pohon langka serentak dari Forum Pohon Langka Indonesia.
FPLI Gelar Program Tanam Pohon Langka Serentak, Perkuat Konservasi Pohon Langka di Momen Hari Pohon Dunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia
Sebagai langkah nyata dalam upaya pelestarian spesies pohon langka, endemik, dan terancam punah di Indonesia, Forum Pelestari Lingkungan Indonesia (FPLI) meluncurkan program unggulan nasional “Tanam Pohon Langka Serentak” pada bulan November 2024. Program ini dirancang untuk bertepatan dengan peringatan Hari Pohon Dunia (21 November) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (28 November), sebagai ajakan kepada masyarakat agar kegiatan tanam pohon selaras dengan agenda konservasi hayati nasional.
Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengubah paradigma penanaman pohon—tidak sekadar menanam sembarang pohon, tetapi memilih jenis pohon asli (natif) Indonesia, khususnya yang masuk dalam kategori langka, endemik, atau terancam punah. Dengan begitu, gerakan tanam pohon juga menjadi bagian dari strategi konservasi spesies yang secara ekologis penting dan mulai terdesak oleh berbagai tekanan lingkungan.
Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif di 21 titik penanaman yang tersebar di 11 provinsi, dari Aceh hingga Papua, dan melibatkan 21 lembaga kolaborator, termasuk institusi pendidikan tinggi, komunitas masyarakat, dan organisasi lokal. Masing-masing lembaga menyusun rangkaian kegiatan tanam pohon sesuai dengan konteks lokal, sementara FPLI berperan sebagai koordinator nasional, sekaligus penyedia dan penyalur bibit pohon langka ke berbagai lokasi.
Beberapa perguruan tinggi yang turut ambil bagian dalam program ini antara lain:
- UIN Saizu Purwokerto
- Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)
- Universitas Negeri Malang
- Universitas Brawijaya
- Universitas Sumatera Utara (USU)
- Institut Pertanian Bogor (IPB)
- Universitas Kuningan
- serta berbagai lembaga masyarakat dan komunitas lingkungan
Dalam momen ini, berhasil ditanam:
- 37 jenis pohon yang masuk kategori terancam punah
- 25 jenis pohon endemik Indonesia
- dengan total sebanyak 323 individu pohon langka
“Program ini bukan hanya tentang penanaman, tapi tentang arah baru dalam konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis spesies. Kami ingin memastikan bahwa setiap pohon yang ditanam memiliki nilai ekologis, bukan sekadar estetika,” ujar Kordinator program tanam pohon langka serentak FPLI dalam keterangan tertulisnya.
Dengan keberhasilan program ini, FPLI mendorong seluruh pihak di berbagai wilayah Indonesia untuk menjadikan pohon langka dan pohon natif sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan tanam pohon ke depan, agar gerakan hijau benar-benar sejalan dengan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Universitas Brawijaya Gelar Forest Tracking dan Tanam Pohon Langka
Universitas Brawijaya (UB) memulai langkah besar dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dengan meresmikan program konservasi pohon langka, yang dimulai dengan pembentukan Pusat Konservasi Pohon Langka Universitas Brawijaya dan diimplementasikan melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan UB Forest.
Kegiatan ini dikemas dalam acara bertajuk “UB Trekking Healing”, sebuah inisiatif untuk mengajak jajaran pimpinan kampus dan sivitas akademika menikmati keindahan dan kesegaran alam UB Forest, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi hutan kampus.
Sebagai simbol dimulainya program, dilakukan penanaman pohon langka endemik Jawa Timur, Dehaasia pugerensis oleh Rektor Universitas Brawijaya. Selain itu, jajaran pejabat kampus UB juga turut menanam Dipterocarpus retusus, salah satu spesies pohon langka dari kelompok meranti yang terancam punah.
Program ini merupakan hasil dari kerja sama antara UB Forest dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), yang bertujuan menjadikan UB sebagai pusat konservasi dan edukasi pohon langka di lingkungan perguruan tinggi.
“Konservasi tidak bisa hanya dibicarakan, tapi harus dilakukan. Penanaman ini adalah langkah awal dari komitmen jangka panjang UB untuk menjadi bagian dari pelestarian spesies langka Indonesia,” ujar Rektor UB saat penanaman berlangsung.
FPLI menyambut baik komitmen UB, dan menyatakan bahwa hadirnya pusat konservasi pohon langka di kampus besar seperti UB merupakan contoh nyata bagaimana akademisi dapat mengambil peran strategis dalam penyelamatan spesies langka Indonesia.
“Kami berharap UB menjadi pionir konservasi berbasis kampus, tempat mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga menjadi pelaku konservasi secara langsung,” kata perwakilan FPLI.
Ke depan, program ini akan dilanjutkan dengan kegiatan persemaian, penelitian pohon langka oleh mahasiswa, serta pengembangan arboretum pendidikan yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan pelajar.
Program Konservasi Cryptocarya Endemik Terbatas dan Kemungkinan Punah di Papua Barat
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), bersama mitra lokal dan internasional, memulai pelaksanaan program bertajuk “Konservasi Cryptocarya Endemik Terbatas dan Kemungkinan Punah di Papua Barat, Indonesia” (Conservation of the Narrow Endemic and Possibly Extinct Cryptocarya (Lauraceae) in West Papua, Indonesia).
Program ini bertujuan untuk menyelamatkan dan memastikan keberadaan spesies tumbuhan dari marga Cryptocarya (famili Lauraceae) yang diketahui hanya ditemukan di wilayah Papua Barat dan belum pernah tercatat kembali sejak pertama kali dikoleksi puluhan tahun lalu. Status spesies ini diduga sangat langka, endemik sempit, bahkan mungkin telah punah. Oleh karena itu, upaya konservasi menjadi mendesak untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati secara permanen.
Tujuan Program:
- Survei lapangan dan pencarian kembali populasi Cryptocarya di lokasi-lokasi historis dan habitat potensial.
- Verifikasi taksonomi melalui kerja sama dengan ahli botani nasional dan internasional.
- Perencanaan konservasi in-situ dan ex-situ, termasuk kemungkinan pembibitan dan penanaman ulang jika ditemukan individu hidup.
- Peningkatan kapasitas lokal melalui pelibatan masyarakat dan mitra pendidikan di Papua Barat.
- Publikasi dan diseminasi hasil, baik secara ilmiah maupun untuk edukasi publik.
Program ini dijalankan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis sains, melibatkan para peneliti botani, pemangku kepentingan lokal, serta komunitas masyarakat adat yang hidup di sekitar habitat pohon tersebut.
“Spesies seperti Cryptocarya yang sangat terbatas distribusinya adalah cerminan betapa penting dan uniknya kekayaan flora Indonesia, khususnya Papua. Jika kita tidak bergerak sekarang, kita bisa kehilangan satu bagian penting dari warisan hayati kita,” ujar Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, Ketua FPLI.
Dukungan Internasional
Program ini didukung oleh Franklinia Foundation, lembaga konservasi internasional yang fokus pada penyelamatan spesies pohon terancam punah secara global. Dukungan ini memungkinkan kerja sama riset, survei, konservasi, dan peningkatan kesadaran terhadap pentingnya spesies endemik Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian.
FPLI dan Fakultas Kehutanan USU Perkuat Kolaborasi melalui Program MBKM dan PKL Konservasi Pohon Langka Pulau Mursala
Forum Pelestari Lingkungan Indonesia (FPLI) terus memperkuat kerjasama strategis dengan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung dari Juli hingga Oktober 2024. Sebanyak 6 mahasiswa Fakultas Kehutanan USU mengikuti program intensif dengan fokus utama pada konservasi pohon langka di Pulau Mursala.
Dalam rangka mendukung riset dan pelestarian pohon langka, para mahasiswa aktif terlibat dalam berbagai aktivitas penting, meliputi:
- Pengambilan data stek sebagai bagian dari upaya perbanyakan bibit pohon langka.
- Pemeliharaan bibit pohon langka untuk memastikan pertumbuhan optimal.
- Pelaksanaan workshop survei sosial guna memahami keterlibatan masyarakat sekitar.
- Pengambilan sampel serasah daun untuk menghitung berat biomassa dan studi ekologi.
- Monitoring plot permanen pada spesies Resak Minyak (Hopea bancana), Lagan Bras (Dipterocarpus cinereus), dan Kapur (Dryobalanops aromatica).
- Penilaian Pohon Plus sebagai indikator kualitas pohon langka.
- Pengambilan semai dengan metode cabutan pada tiga spesies pohon utama konservasi.
- Pemetaan titik lokasi spesies, plot pengamatan, dan ancaman lingkungan.
- Identifikasi potensi ekowisata di Pulau Mursala sebagai bagian pengembangan konservasi berkelanjutan.
- Penyemaian anakan pohon langka dari ketiga jenis utama.
- Perawatan anakan pohon langka agar tumbuh sehat dan kuat.
- Penanaman pohon langka di Kampus Bekala USU sebagai wujud pengabdian dan edukasi lingkungan.
Kegiatan ini menjadi implementasi nyata dari sinergi antara akademisi dan organisasi konservasi dalam upaya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya spesies pohon langka yang berada di ambang kepunahan.
Melalui program ini, FPLI dan Fakultas Kehutanan USU tidak hanya mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam konservasi sumber daya alam yang berkelanjutan.
Kuliah Umum Pohon Langka Papua di Universitas Papua (UNIPA)
Berlangsung di Fakultas kehutanan Universitas Negeri Papua (UNIPA)
Bersama SINTAS, explorasi Pohon Langka endemik Jawa Timur Dehaasia pugerensis di TN Meru Betiri
Dehaasia pugerensis, flora endemik yang statusnya sekarang terancam punah. Selain itu, ditemukan juga beberapa tumbuhan langka lainnya. Kegiatan yang bertujuan untuk konservasi tumbuhan langka ini rencananya masih akan terus dilakukan melalui kerja sama dengan TNMB, FPLI, BRIN, Universitas Jember serta Organisasi Lokal melalui dukungan pendanaan dari Franklinia Foundation.