Forum Pohon Langka Indonesia Selenggarakan Annual Meeting 2025: Evaluasi Program dan Penguatan Strategi Konservasi
Bogor, 28 Mei 2025 — Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) menyelenggarakan Annual Meeting 2025 dengan mengusung tema “Evaluasi Program Konservasi 2024 dan Penguatan Strategi Tahun 2025”, yang berlangsung di Kebun Raya Bogor, pada Rabu, 28 Mei 2025. Kegiatan ini didukung penuh oleh PT MNR sebagai bentuk kolaborasi dunia usaha dalam mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Rapat tahunan ini dipimpin langsung oleh Ketua FPLI, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, dan dihadiri oleh jajaran tokoh penting FPLI, antara lain Dr. Ismayadi, Dr. Wiratno, dan Arief Hamidi. Selain peserta yang hadir secara langsung di lokasi, anggota FPLI dari berbagai wilayah di Indonesia juga mengikuti kegiatan ini secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Agenda utama dalam pertemuan ini adalah:
- Evaluasi pelaksanaan program konservasi pohon langka sepanjang tahun 2024, termasuk program penanaman, pelatihan, dan advokasi kebijakan,
- Penguatan strategi kerja tahun 2025, dengan fokus pada sinergi multipihak, peningkatan basis data spesies langka, dan penyusunan rencana aksi daerah konservasi pohon langka.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Tukirin menekankan bahwa upaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. “Kita membutuhkan kolaborasi antarpihak, baik itu dari dunia akademik, pemerintah, masyarakat sipil, hingga sektor swasta, untuk menyelamatkan pohon-pohon langka yang kini kian terdesak,” ujarnya.
Pertemuan ini juga menjadi ajang refleksi dan konsolidasi internal, termasuk dalam memperkuat jejaring kerja FPLI dengan mitra di daerah, memperbarui pendekatan konservasi berbasis sains, dan memanfaatkan teknologi untuk pemantauan pohon langka secara lebih efektif.
Melalui kegiatan ini, FPLI menegaskan komitmennya sebagai organisasi pelopor konservasi pohon langka di Indonesia yang tidak hanya bekerja di tataran teknis, tetapi juga turut memengaruhi kebijakan dan kesadaran publik.
Menguak Misteri Pohon Sala: Prof. Tukirin dan Tim Lakukan Kajian Langsung di Keraton Surakarta
Dalam upaya mengungkap identitas pasti pohon Sala yang selama ini dikenal dalam budaya Jawa, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua Forum Pohon Langka Indonesia - FPLI) melakukan kunjungan lapangan ke Keraton Surakarta Hadiningrat bersama Prof. Dr. Prabang Setyono (Guru Besar Universitas Sebelas Maret/UNS), perwakilan dari FPLI, UNS, serta didampingi tokoh dari lingkungan keraton.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kajian ilmiah dan budaya untuk menelusuri jenis asli dari pohon yang secara tradisional disebut “Sala”. Hal ini penting mengingat dalam berbagai sumber dan publikasi populer, terdapat setidaknya empat jenis pohon yang sering diklaim sebagai Sala, yakni Couroupita guianensis, Pinus merkusii, Shorea robusta, dan Syzygium sp.
Dalam survei yang dilakukan dengan menyusuri beberapa titik di lingkungan keraton, tim akhirnya ditunjukkan satu pohon yang oleh pihak keraton diyakini sebagai pohon Sala. Pohon tersebut berada di dekat area Sitinggil dan setelah dilakukan pengamatan langsung, jenisnya diidentifikasi sebagai Cynometra ramiflora, yaitu pohon dari kawasan tropis basah yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Kunjungan ini bukan hanya untuk memastikan identitas pohon Sala, namun juga menjadi bagian dari inventarisasi awal jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan Keraton Surakarta. Banyak di antaranya memiliki nilai penting secara sejarah, simbolik, maupun ekologis.
“Penelusuran ini penting untuk menempatkan kembali pengetahuan lokal ke dalam konteks ilmiah dan konservasi,” ujar Prof. Tukirin. “Pohon Sala bukan sekadar nama, tetapi juga representasi dari warisan budaya dan ekologis yang harus dicatat dan dijaga dengan baik.”
Ke depan, tim berencana menyusun sebuah buku berjudul “Pohon-Pohon Keraton Surakarta”, yang akan memuat informasi tentang jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan keraton, lengkap dengan kisah, fungsi budaya, serta identifikasi ilmiahnya. Buku ini diharapkan bisa menjadi media edukasi dan interpretasi bagi masyarakat dan wisatawan, sekaligus mendorong pelestarian kawasan hijau bersejarah di kota Surakarta.
BKSDA Jawa Tengah, Mahasiswa UNIKU, dan FPLI Lakukan Monitoring dan Konservasi Pohon Endemik Nusakambangan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah bersama mahasiswa Universitas Kuningan (UNIKU) dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) telah melaksanakan kegiatan monitoring pohon endemik Nusakambangan, Dipterocarpus littoralis—atau dikenal secara lokal sebagai pohon Plahlar—di Cagar Alam Pulau Nusakambangan Barat, pada tanggal 19–23 Februari 2025.
Kegiatan ini diawali dari penemuan lapangan yang mencatat adanya beberapa individu pohon Plahlar yang berbuah. Merespons temuan tersebut, tim gabungan memutuskan untuk melakukan survei lanjutan guna mengidentifikasi jumlah pohon yang sedang berbuah serta potensi perbanyakan alaminya.
Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, mahasiswa UNIKU juga turut mengambil 50 butir biji dari pohon Plahlar yang berbuah. Biji-biji tersebut dibawa ke persemaian sebagai bagian dari eksperimen perbanyakan generatif. Saat ini, 10 dari 50 biji telah berhasil tumbuh menjadi semai dengan tinggi mencapai 10 cm. Keberhasilan ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya penyelamatan spesies langka ini.
Koordinasi kegiatan dilakukan langsung oleh BKSDA Resort Konservasi Wilayah (RKW) Cilacap, yang juga memastikan pelaksanaan kegiatan tetap mematuhi prinsip-prinsip konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Bibit-bibit Plahlar hasil semaian ini direncanakan akan digunakan untuk program konservasi lanjutan, baik melalui penanaman di habitat aslinya (in situ) maupun di luar habitat (ex situ) seperti arboretum atau taman kehati yang dikelola oleh masyarakat atau pemerintah daerah.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi antara lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam mendukung pelestarian spesies endemik yang keberadaannya semakin langka dan terancam.
FGD Pohon langka Pulau Mursala 2025
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) bersama Fakultas kehutanan Universitas Sumatera Utara mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun Rencana Pengelolaan Pohon Langka dan Keanekaragaman Hayati lainya di pualu Mursala, Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2025