STUDI AUTEKOLOGI LAGAN BRAS (Dipterocarpus cinereus Slooten) SEBAGAI POHON ENDEMIK DI PULAU MURSALA
Penelitian autekologi terhadap spesies pohon terancam punah sangat penting karena pohon memiliki peran yang vital dalam ekosistem. Dipterocarpus cinereus ialah salah satu spesies endemik Pulau Mursala yang terancam kepunahan berdasarkan IUCN Red list of Threatened Species. Untuk mendukung konservasi Dipterocarpus cinereus, diperlukan data dasar tentang dinamika populasi dan faktor abiotik dari spesies yang diteliti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui autekologi Dipterocarpus cinereus sebagai pohon endemik di Pulau Mursala yang meliputi struktur populasi, pola sebaran poulasi, dan preferensi habitat. Pada plot seluas 0,52 ha ditemukan sebanyak 635 individu tumbuhan dari 107 jenis spesies yang terdiri dari 64 genus dan 40 suku. Sebanyak 95 spesies pohon berkayu (88,79%) telah teridentifikasi hingga tingkat genus, sementara 5 spesies pohon belum teridentifikasi karena kurangnya ciri morfologi. Selain itu, terdapat 7 spesies tumbuhan non-kayu yang ditemukan selama pengamatan di lapangan. Terdapat 56 individu spesies Dipterocarpus cinereus yang ditemukan pada plot penelitian dengan diameter terbesar mencapai 144,1 cm. Indeks morisita yang menunjukkan pola distribusi Dipterocarpus cinereus sebesar 1,4 yang menandakan spesies ini cenderung terdistribusi secara mengelompok. Indeks keanekaragaman spesies pada plot tergolong tinggi dengan nilai 3,70. Indeks kemerataan pada plot sebesar 0,18 yang menunjukkan bahwa keseragaman populasi tergolong rendah. Struktur tegakan menyerupai huruf “J” terbalik yang menandakan proses regenerasi di hutan tersebut berjalan dengan baik dan stabil. Lokasi penelitian termasuk kedalam hutan alam dewasa tidak seumur dengan kondisi ekosistem yang tidak terganggu. Total biomassa dari seluruh jenis tumbuhan yang telah diidentifikasi sebesar 73,17 ton/ha yang tergolong rendah.
Gerakan konservasi pohon langka Indonesia disampaikan dalam kuliah tamu di Sanata Dharma Yogyakarta
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) terus bergerak menyambangi generasi muda guna menyampaikan satu visi, “Kita jaga pohon langka Indonesia”. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (USD) adalah satu di antara beberapa kampus yang terus diajak dalam barisan terdepan konservasi pohon langka Indonesia.
Kegiatan kuliah tamu dilakukan di program studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan tema yang diangkat di tahun 2025 adalah "Menyelamatkan Pohon Langka: Konservasi Spesies Pohon Langka di Indonesia dan Peran Red List IUCN dalam Konservasi Tumbuhan Indonesia" dilaksanakan pada selasa, 18 Maret 2025.
Mata kuliah Biologi Konservasi merupakan salah satu mata kuliah fundamental dalam memahami upaya perlindungan keanekaragaman hayati. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia, menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian spesies tumbuhan, termasuk pohon langka. Oleh karena itu, pemahaman tentang status konservasi spesies menjadi sangat penting guna mendukung upaya pelestarian yang berbasis data ilmiah.
Kegiatan ini untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai konservasi spesies pohon langka, penilaian status konservasi, dan peran organisasi konservasi dalam upaya perlindungan spesies. Narasumber yang dihadirkan langsung dari praktisi Forum Pohon Langka Indonesia, Mokhamad Nur Zaman, S.Si., M.Ling.
Di awal perjumpaan, Azam (sapaan akrabnya) bercerita sejak 2013 lalu, USD menjadi bagian dari program Global Trees Campaign (GTC) melalui Fauna & Flora Indonesia Programme. Kegiatan konservasi pohon langka Dipterocarpus littoralis (Blume) di pulau Nusakambangan menjadi awal yang menginisiasi lahirnya Gerakan nasional konservasi pohon langka dan FPLI.
Beberapa waktu kemudian, semakin masif aktivitas yang berkaitan dengan pohon langka ditandai munculnya serangkaian program seperti Penelitian propagasi Dipterocarpus littoralis (Blume) melalui stek batang, kemudian diskusi pohon langka, kuliah umum pohon langka, hingga membuat sebuah seminar nasional yang dibarengi dengan pameran pohon langka Indonesia.
Perjalanan dilanjutkan tahun 2025, FPLI kembali hadir di tengah mahasiswa-mahasiswi USD. Peserta yang berjumlah 43 orang, terdiri dari 37 mahasiswa, 4 pendamping, dan 2 Dosen. Kuliah tamu ini menyampaikan tentang status data terkini tumbuhan Indonesia, data terkini tumbuhan di Indonesia yang masuk kategori terancam punah menurut IUCN Redlist, dan tidak luput juga menyampaikan program-program FPLI sampai ter-update 2025. Bapak Kristianto Budiasmoro, M.Si., dan Ibu Ratna sebagai dosen pengampu matakuliah biokonservasi mengawal acara ini dari awal hingga akhir.
Terdapat sesi tanya jawab dan diskusi sebagai media untuk bertukar informasi penting berkaitan dengan tema. Tak disangka, banyak pertanyaan yang muncul. Hal ini karena sangat relevan dengan matakuliah. Sesuatu yang masih perlu dikonfirmasi, mahasiswa tanyakan, bahkan tidak jarang informasi yang mereka miliki juga disampaikan secara lugas. Diskusi terasa sangat hidup melihat antusias mahasiswa yang mencoba memberikan informasi terkait keadaan di sekitarnya maupun dari materi yang disampaikan.
Ini sebuah pertanda baik, anak muda saat ini ternyata masih sangat peduli terhadap kelestarian alam dan berharap perbaikan terus diupayakan. Mereka tidak terlena dengan teknologi canggih yang menyilaukan, dan tidak pula meninggalkan aktivitas konservasi. Justru teknologi dimanfaatkan sedemikian rupa, agar bisa berperan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Pertanyaan dan pernyataan yang saling dilempar akhirnya mencapai titik pungkas. Diakhir acara, FPLI diberikan cindera mata sebagai kenang-kenangan dan diiringi dengan foto bersama, menandai berakhirnya Kuliah tamu ini.
PT Yamaha Indonesia Manufacturing Selenggarakan Pelatihan Perawatan dan Edukasi Pohon Langka di Taman Kehati Kiara Payung, Sumedang
Sumedang, 28 Februari 2025 — Dalam rangka mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, PT Yamaha Indonesia Manufacturing mengadakan pelatihan perawatan pohon langka dan edukasi tentang pohon langka Indonesia di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Kiara Payung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada 27 Februari 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program konservasi pohon langka yang telah dimulai sejak Desember 2024, dengan penanaman 20 pohon langka, sebagian besar merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Kawasan Taman Kehati Kiara Payung sendiri berada di bawah wewenang Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan telah menjadi lokasi penting dalam upaya pelestarian spesies tumbuhan langka.
Pelatihan menghadirkan Inama, M.Hut dari Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) sebagai narasumber utama. Dalam sesi presentasi, Inama menjelaskan pentingnya pelestarian pohon langka sebagai bagian dari ekosistem yang tak tergantikan, serta menyampaikan teknik-teknik dasar dalam perawatan pohon langka seperti pemangkasan selektif, pengendalian hama, dan pemupukan berkelanjutan.
Peserta pelatihan terdiri dari kelompok tani hutan yang merupakan mitra Dinas Lingkungan Hidup dalam merawat dan menjaga kawasan Taman Kehati. Setelah sesi materi, peserta diajak langsung ke lapangan untuk melakukan praktik perawatan pada pohon-pohon langka yang telah ditanam sebelumnya.
Selama praktik berlangsung, terjadi diskusi interaktif dan mendalam antara peserta dan narasumber. Para peserta menyampaikan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti kesulitan dalam identifikasi jenis dan kebutuhan spesifik tiap pohon. Diskusi ini membuka ruang transfer pengetahuan dua arah yang memperkuat pemahaman teknis serta komitmen peserta terhadap konservasi.
“Kegiatan ini bukan hanya bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga upaya konkret Yamaha dalam mendukung pelestarian hayati Indonesia melalui edukasi, keterlibatan komunitas lokal, dan kemitraan lintas sektor,” ujar perwakilan dari PT Yamaha Indonesia Manufacturing.
Melalui kegiatan ini, Yamaha berharap kelompok tani mitra dapat menjadi pelaku utama dalam merawat dan mengawal keberlanjutan pohon langka yang ditanam, serta menularkan semangat konservasi kepada masyarakat sekitar.
Forum Pohon Langka Indonesia Selenggarakan Annual Meeting 2025: Evaluasi Program dan Penguatan Strategi Konservasi
Bogor, 28 Mei 2025 — Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) menyelenggarakan Annual Meeting 2025 dengan mengusung tema “Evaluasi Program Konservasi 2024 dan Penguatan Strategi Tahun 2025”, yang berlangsung di Kebun Raya Bogor, pada Rabu, 28 Mei 2025. Kegiatan ini didukung penuh oleh PT MNR sebagai bentuk kolaborasi dunia usaha dalam mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Rapat tahunan ini dipimpin langsung oleh Ketua FPLI, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, dan dihadiri oleh jajaran tokoh penting FPLI, antara lain Dr. Ismayadi, Dr. Wiratno, dan Arief Hamidi. Selain peserta yang hadir secara langsung di lokasi, anggota FPLI dari berbagai wilayah di Indonesia juga mengikuti kegiatan ini secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Agenda utama dalam pertemuan ini adalah:
- Evaluasi pelaksanaan program konservasi pohon langka sepanjang tahun 2024, termasuk program penanaman, pelatihan, dan advokasi kebijakan,
- Penguatan strategi kerja tahun 2025, dengan fokus pada sinergi multipihak, peningkatan basis data spesies langka, dan penyusunan rencana aksi daerah konservasi pohon langka.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Tukirin menekankan bahwa upaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. “Kita membutuhkan kolaborasi antarpihak, baik itu dari dunia akademik, pemerintah, masyarakat sipil, hingga sektor swasta, untuk menyelamatkan pohon-pohon langka yang kini kian terdesak,” ujarnya.
Pertemuan ini juga menjadi ajang refleksi dan konsolidasi internal, termasuk dalam memperkuat jejaring kerja FPLI dengan mitra di daerah, memperbarui pendekatan konservasi berbasis sains, dan memanfaatkan teknologi untuk pemantauan pohon langka secara lebih efektif.
Melalui kegiatan ini, FPLI menegaskan komitmennya sebagai organisasi pelopor konservasi pohon langka di Indonesia yang tidak hanya bekerja di tataran teknis, tetapi juga turut memengaruhi kebijakan dan kesadaran publik.
Menguak Misteri Pohon Sala: Prof. Tukirin dan Tim Lakukan Kajian Langsung di Keraton Surakarta
Dalam upaya mengungkap identitas pasti pohon Sala yang selama ini dikenal dalam budaya Jawa, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (Ketua Forum Pohon Langka Indonesia - FPLI) melakukan kunjungan lapangan ke Keraton Surakarta Hadiningrat bersama Prof. Dr. Prabang Setyono (Guru Besar Universitas Sebelas Maret/UNS), perwakilan dari FPLI, UNS, serta didampingi tokoh dari lingkungan keraton.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kajian ilmiah dan budaya untuk menelusuri jenis asli dari pohon yang secara tradisional disebut “Sala”. Hal ini penting mengingat dalam berbagai sumber dan publikasi populer, terdapat setidaknya empat jenis pohon yang sering diklaim sebagai Sala, yakni Couroupita guianensis, Pinus merkusii, Shorea robusta, dan Syzygium sp.
Dalam survei yang dilakukan dengan menyusuri beberapa titik di lingkungan keraton, tim akhirnya ditunjukkan satu pohon yang oleh pihak keraton diyakini sebagai pohon Sala. Pohon tersebut berada di dekat area Sitinggil dan setelah dilakukan pengamatan langsung, jenisnya diidentifikasi sebagai Cynometra ramiflora, yaitu pohon dari kawasan tropis basah yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Kunjungan ini bukan hanya untuk memastikan identitas pohon Sala, namun juga menjadi bagian dari inventarisasi awal jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan Keraton Surakarta. Banyak di antaranya memiliki nilai penting secara sejarah, simbolik, maupun ekologis.
“Penelusuran ini penting untuk menempatkan kembali pengetahuan lokal ke dalam konteks ilmiah dan konservasi,” ujar Prof. Tukirin. “Pohon Sala bukan sekadar nama, tetapi juga representasi dari warisan budaya dan ekologis yang harus dicatat dan dijaga dengan baik.”
Ke depan, tim berencana menyusun sebuah buku berjudul “Pohon-Pohon Keraton Surakarta”, yang akan memuat informasi tentang jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan keraton, lengkap dengan kisah, fungsi budaya, serta identifikasi ilmiahnya. Buku ini diharapkan bisa menjadi media edukasi dan interpretasi bagi masyarakat dan wisatawan, sekaligus mendorong pelestarian kawasan hijau bersejarah di kota Surakarta.
BKSDA Jawa Tengah, Mahasiswa UNIKU, dan FPLI Lakukan Monitoring dan Konservasi Pohon Endemik Nusakambangan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah bersama mahasiswa Universitas Kuningan (UNIKU) dan Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) telah melaksanakan kegiatan monitoring pohon endemik Nusakambangan, Dipterocarpus littoralis—atau dikenal secara lokal sebagai pohon Plahlar—di Cagar Alam Pulau Nusakambangan Barat, pada tanggal 19–23 Februari 2025.
Kegiatan ini diawali dari penemuan lapangan yang mencatat adanya beberapa individu pohon Plahlar yang berbuah. Merespons temuan tersebut, tim gabungan memutuskan untuk melakukan survei lanjutan guna mengidentifikasi jumlah pohon yang sedang berbuah serta potensi perbanyakan alaminya.
Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, mahasiswa UNIKU juga turut mengambil 50 butir biji dari pohon Plahlar yang berbuah. Biji-biji tersebut dibawa ke persemaian sebagai bagian dari eksperimen perbanyakan generatif. Saat ini, 10 dari 50 biji telah berhasil tumbuh menjadi semai dengan tinggi mencapai 10 cm. Keberhasilan ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya penyelamatan spesies langka ini.
Koordinasi kegiatan dilakukan langsung oleh BKSDA Resort Konservasi Wilayah (RKW) Cilacap, yang juga memastikan pelaksanaan kegiatan tetap mematuhi prinsip-prinsip konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Bibit-bibit Plahlar hasil semaian ini direncanakan akan digunakan untuk program konservasi lanjutan, baik melalui penanaman di habitat aslinya (in situ) maupun di luar habitat (ex situ) seperti arboretum atau taman kehati yang dikelola oleh masyarakat atau pemerintah daerah.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi antara lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam mendukung pelestarian spesies endemik yang keberadaannya semakin langka dan terancam.
FGD Pohon langka Pulau Mursala 2025
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) bersama Fakultas kehutanan Universitas Sumatera Utara mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun Rencana Pengelolaan Pohon Langka dan Keanekaragaman Hayati lainya di pualu Mursala, Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2025