Forum Pohon Langka Indonesia

"Kita Jaga Pohon Langka Indonesia"

Tentang Forum Pohon Langka Indonesia

Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) adalah lembaga yang berdiri sejak tahun 2017 dengan misi melestarikan jenis-jenis pohon langka Indonesia agar selamat dari kepunahan. FPLI berupaya menjaga populasi pohon langka di alam dengan menurunkan tingkat ancamanya, melestarikan habitatnya dan menyelamatkan jenisnya melalui program konservasi ex situ. Kami memastikan setiap aksi konservasi yang dilakukan oleh FPLI berlangsung secara terus menerus, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh manusia, alam, serta lingkungan. Dibentuk pada tanggal 3 Maret 2016 di LIPI Cibinong. Bentuk forum komunikasi, dan bersifat sukarela & Partisipatif. Terbuka untuk keanggotaan. Anggota adalah perseorangan / Lembaga Forum Pohon langka Indonesia telah terdaftar sebagai sebuah lembaga berbentuk perkumpulan di kementerian Hukum dan HAM dengan nomor: AHU-0000356.AH.01.08. TAHUN 2026
Visi
Terselamatkannya jenis-jenis pohon langka Indonesia melalui pengelolaan dan kebijakan konservasi yang sejalan Arahan Strategi Konservasi Spesies Nasional, Convention on Biological Diversity (CBD)
Misi
Mencegah kepunahan jenis pohon langka di alam dengan menurunkan tingkat ancaman, memastikan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat, dan lingkungan secara luas.

Aksi Konservasi

15/05/2025

Selamatkan Pohon Langka Indonesia, Menanam Pohon mangga Kasturi yang statusnya punah di alam

24/04/2025

Konservasi Berkelanjutan Tumbuhan Langka dan Endemik Sulawesi: Syzygium contiguum & Syzygium galanthum.

23/04/2025

Optimalisasi Kawasan Arboretum Sylva Untan sebagai Kawasan Konservasi Spesies Pohon Langka Prioritas Nasional

02/02/2025

Small Grant Cycle 3: Tim Garsinia, komunitas Muda Bangka Belitung Pelestari Pohon Langka

02/02/2025

Rektor Universitas Brawijaya Tanam Pohon Langka di UB Forest

02/02/2025

FPLI Ex Situ Network Bangunan Jejaring Konservasi Pohon Langka Indonesia

Aksi konservasi...

Peta Persebaran Program Forum Pohon langka Indonesia

Detail

Nama Jenis
Synonym
Lokasi

Berita & Publikasi

  • Petualangan Konservasi #4: Belajar, Menjelajah, dan Menanam Harapan di Gunung Tilu

    Petualangan Konservasi #4: Belajar, Menjelajah, dan Menanam Harapan di Gunung Tilu

    Tidak semua perjalanan meninggalkan jejak.

    Namun di Petualangan Konservasi #4, setiap langkah justru menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan.

    Bertempat di Persemaian Pohon Langka Saung Kehati Gunung Tilu, Kuningan – Jawa Barat, kegiatan ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya mendekatkan peserta dengan alam, tetapi juga mempertemukan mereka dengan makna konservasi yang sesungguhnya.

    Belajar dari Awal: Persemaian Pohon Langka

    Perjalanan dimulai dari tempat yang sering luput dari perhatian—persemaian.

    Di sinilah peserta belajar bahwa menjaga pohon langka tidak dimulai dari hutan, tetapi dari benih kecil yang dirawat dengan penuh kesabaran. Peserta dikenalkan pada berbagai jenis pohon langka Indonesia, memahami proses pembibitan, hingga melihat langsung bagaimana upaya konservasi dilakukan dari tahap paling awal.

    Menyusuri Hutan, Memahami Kehidupan

    Memasuki kawasan hutan Gunung Tilu, peserta diajak melakukan jungle trekking menyusuri jalur alami. Suara dedaunan, udara segar, dan lanskap yang masih terjaga menjadi pengalaman yang tidak tergantikan.

    Kegiatan dilanjutkan dengan bird watching, di mana peserta mengamati burung di habitat aslinya. Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa hutan yang sehat adalah rumah bagi begitu banyak kehidupan.

    Kehidupan yang Terungkap di Malam Hari

    Saat malam tiba, petualangan justru berlanjut. Dalam kegiatan night herping, peserta diajak menjelajahi hutan untuk menemukan amfibi dan reptil yang aktif di malam hari.

    Dengan ditemani pemandu, peserta belajar bahwa ekosistem hutan tetap hidup bahkan saat gelap. Pengalaman ini membuka perspektif baru tentang pentingnya menjaga seluruh komponen ekosistem, termasuk yang sering tidak terlihat.

    Kembali ke Hal Sederhana

    Malam ditutup dengan api unggun dan kemah bersama. Di tengah keterbatasan sinyal dan jauh dari hiruk-pikuk kota, peserta berbagi cerita, tawa, dan refleksi.

    Di sinilah banyak yang menyadari bahwa kedekatan dengan alam juga berarti kembali ke hal-hal sederhana yang selama ini terlupakan.

    Menyatu dengan Alam

    Keesokan harinya, peserta melanjutkan kegiatan dengan susur sungai dan mandi di air terjun. Air yang jernih dan suasana alami memberikan pengalaman yang menyegarkan, sekaligus memperkuat koneksi dengan alam.

    Tak hanya itu, peserta juga diajak memanen timun langsung dari kebun. Aktivitas sederhana ini menghadirkan pengalaman unik—merasakan hasil alam secara langsung, segar, dan tanpa perantara.

    Menanam Lebih dari Sekadar Pohon

    Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan adalah penanaman pohon langka.

    Di momen ini, setiap peserta tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Pohon yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh dan menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam menyelamatkan spesies langka Indonesia.

    Lebih dari Sekadar Perjalanan

    Petualangan Konservasi #4 bukan hanya tentang menjelajah alam, tetapi tentang memahami, merasakan, dan berkontribusi.

    Bagi para peserta, ini bukan sekadar perjalanan singkat. Ini adalah pengalaman yang membekas—yang mengubah cara pandang, dan mungkin juga cara hidup.

    Dan bagi FPLI, kegiatan ini adalah bagian dari langkah kecil yang terus dilakukan untuk menjaga masa depan hutan Indonesia.

    🌿 Sampai Jumpa di Petualangan Berikutnya

    Beberapa orang telah merasakan pengalaman ini.

    Dan sebagian besar dari mereka ingin kembali.

    Jika kamu belum sempat ikut, mungkin ini saatnya menunggu—

    atau bersiap—untuk Petualangan Konservasi berikutnya.

    31 Maret 2026
    #pohonLangka
    #forumPohonLangkaIndonesia
    #pohonLangkaIndonesia
    #konservasi
  • Tanam Pohon Langka Serentak: Gerakan Nasional yang Kian Tumbuh dan Berdampak

    Tanam Pohon Langka Serentak: Gerakan Nasional yang Kian Tumbuh dan Berdampak

    Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga masa depan keanekaragaman hayati melalui kegiatan Tanam Pohon Langka Serentak. Program ini menjadi salah satu gerakan kolaboratif berskala nasional yang terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.

    Pada tahun 2025, capaian program ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya dari sisi jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keragaman jenis, jangkauan wilayah, hingga kekuatan kolaborasi yang terbangun.

    📊 Lonjakan Capaian yang Signifikan

    Pada tahun 2024, kegiatan ini telah berhasil menanam:

    1. 44 jenis pohon langka
    2. 37 jenis pohon terancam punah
    3. 25 jenis pohon endemik
    4. Dilaksanakan di 11 provinsi
    5. Melibatkan 22 lembaga kolaborator
    6. Dengan 21 titik tanam
    7. Total 323 individu pohon

    Satu tahun kemudian, pada 2025, angka tersebut meningkat drastis:

    1. 86 jenis pohon langka
    2. 65 jenis pohon terancam punah
    3. 30 jenis pohon endemik
    4. Menjangkau 21 provinsi
    5. Melibatkan 68 lembaga kolaborator
    6. Dengan 55 titik tanam
    7. Total 1.543 individu pohon berhasil ditanam

    Peningkatan ini mencerminkan bahwa gerakan ini tidak hanya berlanjut, tetapi tumbuh menjadi aksi kolektif yang semakin luas dan terorganisir.

    Fokus pada Spesies Terancam

    Salah satu kekuatan utama dari program ini adalah fokusnya pada spesies dengan tingkat ancaman tinggi. Pada tahun 2025, jumlah jenis pohon dalam kategori:

    1. Critically Endangered (CR) meningkat dari 8 menjadi 18 jenis
    2. Endangered (EN) meningkat dari 8 menjadi 24 jenis
    3. Vulnerable (VU) meningkat dari 17 menjadi 22 jenis

    Bahkan, upaya konservasi juga mulai menyasar jenis dengan status Extinct in the Wild (EW), sebuah langkah penting dalam mendorong pemulihan spesies yang telah hilang dari habitat alaminya.

    Kolaborasi sebagai Kunci

    Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi multipihak yang terus diperkuat. Dari 22 lembaga pada tahun 2024, meningkat menjadi 68 lembaga di tahun 2025. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas, akademisi, pemerintah, hingga organisasi non-profit di berbagai daerah.

    Menuju Dampak Jangka Panjang

    Tanam Pohon Langka Serentak bukan sekadar kegiatan penanaman, tetapi bagian dari upaya jangka panjang untuk:

    1. Menyelamatkan spesies pohon langka Indonesia
    2. Memulihkan ekosistem yang terdegradasi
    3. Meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi

    Dengan pertumbuhan yang signifikan ini, FPLI optimis bahwa gerakan ini akan terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting dalam konservasi pohon langka di Indonesia.

    31 Maret 2026
    #pohonLangka
    #pohonLangka
    #forumPohonLangkaIndonesia
    #pohonLangkaIndonesia
    #konservasi
  • Dari 84 Pendaftar, Ini 5 Tim Pemenang Small Grant 2026 FPLI

    Dari 84 Pendaftar, Ini 5 Tim Pemenang Small Grant 2026 FPLI

    Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) secara resmi mengumumkan penerima program Small Grant 2026, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mendukung aksi nyata konservasi pohon langka di berbagai wilayah Indonesia. Program ini mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi, dengan total 85 tim pendaftar yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, komunitas, hingga organisasi masyarakat sipil.

    Setelah melalui proses seleksi yang ketat dan komprehensif—meliputi evaluasi administrasi, penilaian substansi proposal, serta kelayakan teknis dan potensi dampak—terpilih sejumlah tim terbaik yang dinilai memiliki program unggulan dalam upaya pelestarian pohon langka di Indonesia.

    Beberapa tim penerima Small Grant 2026 di antaranya:

    1. Rumah Air Mandiri dengan program konservasi Wangi Cendana Timur
    2. Konservasi Lingkungan Hidup Gayo (KLH Gayo-GEC) dengan fokus pada perlindungan dan pemulihan populasi Magnolia banghamii secara berkelanjutan
    3. Mapala Gempa Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong dengan kegiatan rediscovery dan karakterisasi ekologi Terminalia avicapitis di Papua Barat
    4. Native Celebes Trees dengan program konservasi Gluta celebica Kosterm., spesies pohon endemik terancam di tanah ultramafik Sulawesi
    5. Yayasan Jejak Anoa Indonesia yang melakukan pemulihan awal Glochidion butonicum melalui verifikasi populasi, perlindungan mikrohabitat, dan perbanyakan terbatas di TWA Tirta Rimba, Baubau

    Program Small Grant 2026 tidak hanya berfokus pada kegiatan penanaman, tetapi juga mencakup aksi konservasi lebih luas meliputi eksplorasi, penelitian, perlindungan habitat, hingga pengembangan persemaian dan perbanyakan jenis pohon langka. Hal ini sejalan dengan komitmen FPLI dalam mendorong pendekatan konservasi berbasis ilmiah dan kolaboratif.

    FPLI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim yang telah berpartisipasi dalam program ini. Meskipun tidak semua tim dapat terpilih, kontribusi ide dan semangat yang ditunjukkan menjadi bagian penting dalam gerakan bersama menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

    Melalui dukungan Small Grant 2026, diharapkan para penerima dapat mengimplementasikan programnya secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi upaya konservasi pohon langka di Indonesia. FPLI juga berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari gerakan nasional dalam menyelamatkan spesies pohon langka yang semakin terancam.


    Daftar tim juga dapat dilihat pada tautan berikut:

    https://www.instagram.com/p/DWG5QMNkVFo/?img_index=1

    20 Maret 2026
    #pohonLangka
    #forumPohonLangkaIndonesia
    #pohonLangkaIndonesia
  • 84 Tim dari 24 Provinsi di Indonesia Mendaftar FPLI Small Grant Programme 2026

    84 Tim dari 24 Provinsi di Indonesia Mendaftar FPLI Small Grant Programme 2026

    FPLI Small Grant Programme 2026 secara resmi telah menutup masa pendaftaran. Program ini terbuka bagi seluruh Warga Negara Indonesia dengan mengusung topik utama: Aksi konservasi pohon langka, endemik, dan/atau terancam punah.

    Tahun ini, sebanyak 84 tim telah mendaftarkan proposal terbaik mereka untuk mendukung upaya pelestarian spesies pohon langka di Indonesia. Berikut adalah daftar propinsi dan jumlah tim yang mendaftar.


    ProvinsiJumlah Tim
    Aceh7
    Banten1
    DI Yogyakarta2
    Jambi2
    Jawa Barat15
    Jawa Tengah6
    Jawa Timur13
    Kalimantan Barat4
    Kalimantan Selatan3
    Kalimantan Tengah1
    Kalimantan Timur1
    Kalimantan Utara1
    Kepulauan Riau1
    Lampung1
    Nusa Tenggara Barat (NTB)3
    Nusa Tenggara Timur (NTT)8
    Papua Barat1
    Papua Barat Daya1
    Riau2
    Sulawesi Barat1
    Sulawesi Selatan2
    Sulawesi Tengah4
    Sumatera Selatan2
    Sumatera Utara1




    Skema Pendanaan

    Melalui program ini, FPLI akan mendanai 3–5 tim terbaik dengan dukungan dana sebesar Rp35.000.000 – Rp45.000.000 per tim.

    Pendanaan ini dirancang sebagai funding untuk mendukung pegiat konservasi tahap awal agar dapat menjalankan ide, riset, aksi lapangan, serta model aksi konservasi berbasis masyarakat secara lebih terstruktur dan berdampak.

    Mendorong Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka

    FPLI Small Grant Programme hadir sebagai ruang tumbuh bagi generasi baru pegiat konservasi. Banyak inisiatif lokal memiliki gagasan kuat dan relevan, namun terkendala akses pendanaan. Program ini menjadi jembatan untuk mengubah ide menjadi aksi nyata di lapangan.

    Dengan meningkatnya ancaman terhadap pohon-pohon langka, endemik, dan terancam punah, kolaborasi dan inovasi menjadi kunci. FPLI berkomitmen untuk terus mendorong gerakan konservasi berbasis komunitas yang berkelanjutan dan berdampak luas.

    Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim yang telah mendaftar dan berpartisipasi.

    Sampai jumpa pada pengumuman 20 Maret 2026.

    04 Maret 2026
    #konservasi
    #pohonLangka
    #forumPohonLangkaIndonesia
    #pohonLangkaIndonesia
  • Perayaan Hari Pohon Dunia FPLI selenggarakan Seminar Nasional dan Tanam Pohon Langka Serentak se Indonesia

    Perayaan Hari Pohon Dunia FPLI selenggarakan Seminar Nasional dan Tanam Pohon Langka Serentak se Indonesia

    Setiap tanggal 21 November, dunia memperingati Hari Pohon Sedunia (World Tree Day) sebagai momentum refleksi akan pentingnya peran pohon bagi kehidupan di bumi. Pohon tidak hanya berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan penyerap karbon, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah ancaman perubahan iklim, deforestasi, dan menurunnya keanekaragaman hayati, perayaan Hari Pohon menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.

    Selain itu, Indonesia juga memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) setiap tanggal 28 November, sebagai bentuk ajakan nasional untuk mengembalikan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga dan memulihkan tutupan hijau di berbagai wilayah. Kedua momentum penting ini menjadi landasan kuat dalam membangun gerakan bersama untuk menanam, merawat, dan melestarikan pohon sebagai warisan kehidupan.

    Sebagai tindak lanjut dari semangat tersebut, pada tahun 2024 telah terselenggara Gerakan Tanam Pohon Langka Serentak di 21 titik lokasi di seluruh Indonesia, yang melibatkan berbagai kalangan – mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat umum. Keberhasilan gerakan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menjadi kekuatan besar dalam upaya konservasi pohon langka dan peningkatan kesadaran lingkungan.

    Memasuki tahun 2025, semangat tersebut akan kembali dilanjutkan melalui Rangkaian Perayaan Hari Pohon 2025, dengan acara utama berupa Seminar Nasional Pohon Langka. Seminar ini diharapkan menjadi ruang temu bagi para peneliti, akademisi, praktisi, dan pemerhati lingkungan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi pelestarian spesies pohon langka di Indonesia.

    Sebagai bentuk aksi nyata, kegiatan ini juga akan dirangkai dengan Gerakan Tanam Pohon Langka Serentak 2025, yang melibatkan kolaborator di berbagai daerah. Penanaman pohon langka memiliki makna yang sangat penting, karena bukan hanya sebagai simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga sebagai wujud nyata upaya pelestarian terhadap spesies pohon yang terancam punah. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan secara langsung pada bentuk dan keberadaan pohon-pohon langka Indonesia yang selama ini hanya dikenal dari hutan atau literatur ilmiah.

    Selain menjadi sarana edukasi ekologis, penanaman pohon langka juga merupakan langkah strategis untuk mengurangi praktik penanaman pohon dengan jenis-jenis asing yang tidak sesuai dengan ekosistem lokal. Dengan menanam pohon asli Indonesia, kegiatan ini turut memperkuat identitas keanekaragaman hayati nasional sekaligus mendukung pemulihan ekosistem hutan yang berkelanjutan.

    Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia Tahun 2025 ini, diharapkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga pohon dan habitatnya semakin meningkat, serta melahirkan kolaborasi berkelanjutan untuk menjaga kekayaan hayati bangsa Indonesia.


    14 November 2025
    #pelatihan
    #pohonLangka
    #konservasi
    #Mursala
    #forumPohonLangkaIndonesia
    #pohonLangkaIndonesia
Webinar Nasional: Restorasi Ekosistem untuk Masa Depan Berkelanjutan: Tantangan dan Solusi

Webinar Nasional: Restorasi Ekosistem untuk Masa Depan Berkelanjutan: Tantangan dan Solusi

24 Juli 2025
#pohonLangka
#pohonLangkaIndonesia
#forumPohonLangkaIndonesia
FPLI Hadiri Workshop Nasional Penyusunan NSPK Pemulihan Ekosistem di Kawasan Konservasi

FPLI Hadiri Workshop Nasional Penyusunan NSPK Pemulihan Ekosistem di Kawasan Konservasi

30 Mei 2025
#pohonLangka
#konservasi
#pohonLangkaIndonesia
#forumPohonLangkaIndonesia
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) Hadiri Lokakarya Nasional I Penyusunan Laporan Nasional Keanekaragaman Hayati ke-7 (NATREP 7)

Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) Hadiri Lokakarya Nasional I Penyusunan Laporan Nasional Keanekaragaman Hayati ke-7 (NATREP 7)

30 Mei 2025
#konservasi
#pohonLangka
#forumPohonLangkaIndonesia
#pohonLangkaIndonesia

Publikasi

Pohon Langka Endemik pulau Mursala Dipterocarpus cinereus

Pohon Langka Endemik pulau Mursala Dipterocarpus cinereus

Pohon lagan bras berukuran besar dengan diameter lebih dari 100 cm dan tinggi mencapai 50 m. Batang mengelupas tipis. Daun tunggal, lanset, 6-8 x 1,7-2,5 cm, menjangat tipis, pertulangan sekunder 7 – 9 pasang membentuk sudut tajam pada tulang daun primer (Gambar 6). Buah bersayap, dua sayap panjang (5 x 1,2 cm) dan tiga sayap pendek (5 x 5 mm)(Ashton, 1982). Hingga saat ini terdata hanya dijumpai di Pulau Mursala, Sumatra Utara. IUCN menyatakan bahwa jenis ini telah punah sejak 1998 (Ashton, 1998), namun pada 2013 tim ekspedisi Kebun Raya Bogor menemukan kembali jenis ini di Pulau Mursala (Kusuma dkk, 2013). Ancaman utama berupa pembalakan liar untuk dijual. Hingga saat ini pemanfaatan lagan bras diketahui hanya untuk kayu bangunan saja. Pohon langka Indonesia dan endemik di pulau Mursala, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Dipterocarpus littoralis pohon langka endemik pulau Nusakambangan

Dipterocarpus littoralis pohon langka endemik pulau Nusakambangan

Pohon pelahlar (Gambar 2) dapat mencapai tinggi 50 m dan diameter lebih dari 150 cm. Kulit batang mengelupas, abu-abu, dan mengeluarkan resin bila ditakik. Daun penumpu berbulu kasar, merah tua. Daun tunggal, 16-25(-52) x 10-18(-28) cm, tersusun berseling atau spiral, helaian daun membundar telur, agak kaku dan berlipatan, pertulangan sekunder 19-24 pasang. Buah bersayap, 2 sayap panjang (24 x 4 cm) dan 3 sayap pendek (10 x 6 mm) (Ashton, 1982). Habitatnya di hutan campuran daerah rendah (lowland forest), di punggung bukit, lereng dan pinggiran aliran air, serta pada substrat tanah bukit kapur (limestone) di Nusakambangan bagian barat (Partomihardjo dkk, 2014). Kayunya digunakan untuk bahan bangunan, pembuatan kapal dan pertukangan, sedangkan resin digunakan untuk memakal perahu. Sebaran terbatas dan populasi sangat kecil serta ancaman tinggi, sehingga menempatkan Pelahlar dalam jenis prioritas I. Pohon langka Indonesia endemik pulau Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah

Pendaftaran Anggota Forum Pohon langka Indonesia

Pendaftaran Anggota Forum Pohon langka Indonesia

Gabung bersama kami

Vatica bantamensis pohon langka Indonesia endemik di Banten

Vatica bantamensis pohon langka Indonesia endemik di Banten

Pohon resak banten mampu mencapai tinggi 30 m. Daun tunggal, agak tebal dan mengkilap, (4,5-) 7,5-18 x (1,8-) 3,5-7,5 cm, jorong atau lonjong, pertulangan sekunder 9 – 11 pasang (Gambar 4). Perbungaan dalam malai, muncul di ketiak atau ujung ranting. Buah bersayap lima, dua sayap panjang (9 x 2,5 cm) dan tiga sayap pendek (0,25 x 0,09 cm), biji agak membulat dengan diameter 10 mm. Pohon yang menjadi identitas Provinsi Banten ini diketahui hanya tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten pada hutan daerah rendah di lereng-lereng bukit atau gunung (Ashton, 1982). Kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan pembuatan kapal/perahu.

Vatica javanica subsp. javanica pohon langka endemik pulau Jawa Bagian barat

Vatica javanica subsp. javanica pohon langka endemik pulau Jawa Bagian barat

Pohon resak brebes berukuran sedang, tinggi mencapai 27 m dan diameter 25 cm. Kulit batang putih atau coklat keabuan dan memiliki garis-garis khas Vatica yang melingkari batang (Gambar 5). Dauntunggal, jorong – lonjong (13-24 x 6–10 cm), menjangat tipis, pangkal membundar atau agak menjantung, pertulangan sekunder 22-25 pasang, menyambung di tepi daun membentuk pertulangan intramarginal. Buah bersayap, dua sayap panjang (7,5 x 1,7 cm) dan tiga sayap pendek (0,3 x 0,07 cm). Jenis ini dilaporkan hanya tumbuh di hutan primer atau sekunder tua di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes (Kalima, 2010).

Lebih banyak berita & publikasi

Detail Publikasi

Judul
Artikel

Profile Team

Kegiatan

Aksi Konservasi

Lokasi

Gedung PIKA Bogor - Jl. Raya Pajajaran No.79, RT.02/RW.03, Bantarjati, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16153
© Copyright 2025 - Pohonlangka ID - All Rights Reserved